Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?

00:00
00:00

Masjid Al Yaqin Siabu Salo

KampoengNews.com– Mengapa generasi muda menjauh dari masjid? Pertanyaan ini kian relevan di tengah ramainya kafe, warung kopi, dan ruang-ruang nongkrong yang dipadati anak muda.

Di sudut-sudut kota, dari metropolitan yang hiruk-pikuk hingga kampung yang baru mengenal lampu hias jalanan, satu pemandangan terasa seragam: kafe dan warung kopi tumbuh bak cendawan di musim hujan. Meja-meja penuh, gelas berembun, percakapan berlapis-lapis. Di sana orang bekerja, berdebat, jatuh cinta, menyusun mimpi, atau sekadar menghabiskan waktu.

Pada saat yang sama, banyak masjid justru mengalami nasib sebaliknya. Ia tetap berdiri kokoh, tetapi jamaahnya menyusut. Yang setia tinggal “pemain inti” yang usianya nyaris menjejak maghrib kehidupan. Anak-anak muda yang dahulu riuh di serambi, kini lebih sering memilih sudut kafe ketimbang saf belakang.

Fenomena ini bukan semata soal iman yang menipis. Ia lebih tepat dibaca sebagai krisis ruang sosial.

Ruang yang Menghakimi vs Ruang yang Merangkul

Generasi muda hari ini tumbuh dalam ekosistem berbeda. Mereka adalah anak kandung kultur digital: terbiasa dengan diskusi terbuka, ruang egaliter, dan fleksibilitas. Kafe menyediakan itu semua; akses internet, suasana cair, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa tatapan curiga.

Sebaliknya, sebagian masjid masih terjebak pada fungsi tunggal: ruang ritual. Anak-anak kecil yang bermain di saf belakang dipandang sebagai gangguan, bukan investasi jangka panjang. 

Diskusi kritis dianggap berisik, bukan tanda gairah intelektual. Gagasan baru seringkali dicurigai, bukan disambut.

Padahal secara historis, masjid bukan sekadar tempat sujud. Di masa awal Islam, ia adalah pusat peradaban; ruang ilmu, musyawarah, bahkan pemberdayaan ekonomi. Di kota seperti Madinah pada era Nabi Muhammad, masjid menjadi simpul kehidupan publik. Ia bukan hanya sakral, tetapi juga sosial.

Ketika fungsi itu menyempit hanya pada ibadah ritual, yang terjadi bukan sekadar penurunan jumlah jamaah, melainkan penyusutan makna.

Masjid dan Kegagalan Manajemen

Kita perlu jujur: kegagalan masjid merangkul anak muda adalah cermin kegagalan tata kelola. Masjid kerap dikelola ala kadarnya tanpa visi, tanpa segmentasi, tanpa strategi. Padahal, dalam dunia modern, bahkan usaha kecil sekalipun memahami pentingnya manajemen dan pemasaran.

Mengapa masjid tidak belajar dari logika bisnis, tanpa kehilangan ruhnya?

Seorang pengusaha tak akan membiarkan unit usahanya sepi pelanggan. Ia akan membaca pasar, memetakan kebutuhan, lalu merancang program yang relevan. Masjid pun seharusnya demikian: membaca denyut sosial, memahami perubahan preferensi, lalu beradaptasi.

Promosi bukan hal tabu. Kerja sama dengan dinas perdagangan untuk pasar murah dapat mengundang ibu-ibu mendekat. Penyediaan wifi, ruang kerja sederhana, dan sudut kopi bisa menjadi magnet bagi mahasiswa dan pekerja lepas. Beberapa praktik baik sudah dicontohkan oleh Masjid Sejuta Pemuda dan Masjid Nurul Ashri Deresan yang mencoba menjadikan masjid sebagai ruang ramah anak muda.

Ini bukan soal mengubah masjid menjadi kafe. Ini soal menghadirkan kembali masjid sebagai ruang hidup.

Program masjid juga perlu bergerak dari pola konvensional menuju pendekatan kontekstual. Kajian akhlak dan tasawuf tentu penting, tetapi ia perlu dibumikan dalam persoalan nyata: manajemen keuangan keluarga, etika politik, literasi digital, kesehatan mental, hingga kewirausahaan.

Segmentasi menjadi kunci. Kajian keuangan keluarga dan kuliner sunnah bisa menyasar ibu-ibu. Diskusi politik konstitusional atau kepemimpinan publik dapat menarik minat generasi muda yang akrab dengan isu kebangsaan. Ketika masjid berbicara dalam bahasa zaman, ia akan kembali didengar.

Masjid tak boleh alergi pada isu-isu aktual. Ia harus berani menjadi ruang dialog, bukan hanya ruang monolog.

Tantangan Dakwah di Era Nongkrong

Kita hidup di zaman “nongkrong” sebagai identitas sosial. Anak muda mencari tempat bukan hanya untuk duduk, tetapi untuk merasa diterima. Jika masjid gagal menyediakan rasa itu, maka ia kalah bukan karena kalah sakral, melainkan kalah hangat.

Kurangnya ketertarikan anak muda untuk berlama-lama di masjid bukan sekadar kemalasan spiritual. Ia adalah sinyal. Dan setiap sinyal, jika diabaikan, akan berubah menjadi jarak yang permanen.

Masjid adalah tonggak peradaban. Tetapi tonggak yang kokoh sekalipun bisa kehilangan relevansi jika ia tak lagi menjadi tempat orang berteduh. Tugas kita bukan meratapi sepinya saf, melainkan merancang ulang ruang.

Sebab di tengah krisis ruang sosial ini, masjid sesungguhnya masih memiliki modal terbesar: makna. Tinggal bagaimana ia dikelola dengan visi, dirawat dengan empati, dan dibuka dengan tangan yang lebih ramah.

Sumber : Bincangsyariah.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?
  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?
  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?
  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?
  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?
  • Mengapa Generasi Muda Menjauh dari Masjid?