Notification

×

Iklan

Menjadi Remaja Yang Agamis Di Era Smartphone

02 March 2020 | Monday, March 02, 2020 WIB Last Updated 2020-03-04T05:44:30Z
KAMPOENG NEWS


Kampoeng News- Zaman saat ini sudah sangat semakin canggih, dahulu yang membutuhkan proses berhari-hari saat ini bisa hanya dengan 1 detik atau 2 detik saja. bahkan saking majunya zaman satu benda bisa mewakili lebih dari puluhan benda yang dahulu terpisahkan.

Itulah smartphone benda kecil yang hanya sebesar genggaman tangan namun manfaatnya sungguh luar biasa, selain bisa membantu aktivitas kehidupan manusia tanpa disadari benda ini dapat merusak kepribadian seseorang.

Hanya cukup membeli dengan harga diatas 1 jutaan seseorang bisa mengakses ke seluruh dunia, bahkan anak kecil pun saat ini sudah sangat mahir dan pandai menggunakan smartphone ataupun handphone pintar.

Mulai dari hubungan sosial sampai permainan bahkan informasi dapat diakses dengan hanya di genggaman tangan saja, hal ini tentunya bisa mengakibatkan dampak positif dan negatif bagi si penggunanya.

Lalu apa hubungannya dengan remaja saat ini? Remaja yang sering di sebut dengan generasi milenial merupakan salah satu korban utama pengguna smartphone, yang cukup mengkhawatirkan, karena dilihat dari pisikologis mereka masih cukup labil dan mudah terpengaruh dengan keadaan lingkungan.

Hal ini tidak hanya terjadi di perkotaan, bahkan remaja di pelosok desa sudah tidak asing lagi dengan yang namanya smartphone.

Yang lebih parahnya, smartphone mampu merubah gaya hidup mereka, yang sebelumnya lugu gampang di atur dan diarahkan, kini menjadi remaja yang gaul bahkan begitu bebasa gaya pergaulanya.

Pengaruh ini juga membuat presentasi belajar remaja saat ini menurun, karena semangat belajar mereka juga tidak seperti sebelumnya, yang semula ketika belajar bisa konsentrasi dengan tugas-tugas yang berikan oleh Sekolah, kini mereka hanya copy paste dari internet.

Memang ini bukan suatu Kesalahan , namun hanya membuat remaja menjadi pemalas membaca, hanya ingin yang instan dan cepat saja, selain itu mereka sering mempublikasikan kegiatan pribadi mereka di media sosial, seperti Facebook.

Yang lebih parahnya semangat mereka untuk ibadah juga sangat menurun, ini semua bisa dibuktikan dengan keadaan tempat ibadah seperti Masjid atau Musholla yang sepi dari remaja, bahkan jika mereka datang pun hanya untuk memamerkan antara mereka tentang pertemanan mereka di media sosial.

Jika hal ini tidak menjadi perhatian serius dari semua pihak, terutama orang tua, maka generasi muda kita dimasa depan hanya menjadi generasi yang lemah, dari kesing atau fisik mereka memang terlihat gagah dan kuat, namun ruh, kepribadian dan keimanan mereka sangat rapuh.

Ini bisa disaksikan prilakunya yang  bebas, dari pergaulan  mereka sudah menghawatirkan, dijalanan sering dijumpai remaja remaji yang hilir mudik berboncengan bebas berpeluk-pelukan tanpa ada rasa malu, sementara mereka tidak ada ikatan pernikahan.

Lalu apa yang harus dilakukan para remaja agar terhindar dari smartphone yang melalaikan? Dan bisa menjadi remaja yang Agamis di zaman yang serba canggih ini.


  • Batasi penggunaan smartphone, gunakan ketika waktu tertentu, sehingga kegiatan yang lain tidak terganggu.
  • Jangan sering share kegiatan dan Maslah pribadi di media sosial.
  • Ikut dengan kegiatan organisasi di lingkungan, seperti remaja Mushola atau remaja Masjid di sekitar rumah.
  • Pelajari Agama dengan serius, sehingga bisa menyaring kebiasaan yang baik dan yang buruk.
  • Harus punya cita-cita yang tinggi.
Demikain diantara cara agar tidak terlena  dengan smartphone yang bisa membuat para remaja kehilangan masa depan yang gemilang.
Di zaman sekarang sudah sangat sulit mencari remaja kampung yang rajin beribadah ke Masjid atau Musholla, mereka menganggap tempat tersebut hanya mengurangi waktu kumpul-kumpul mereka dengan temanya, apalagi diperkotaan, bahkan bisa lebih parah.

Untuk membuktikanya silahkan setiap waktu Sholat bisa dilihat berapa persentase kehadiran remaja untuk ikut Sholat berjamaah di Masjid atau Musholla.

Bahkan di bulan Ramadhan saja, yang dulunya tadarus Al-Qur'an ramai Diikuti oleh remaja dan remaji, saat ini hanya Ibu-Ibu saja yang mengikutinya, lalu pada kemana remajanya, ya sudah pasti mereka sibuk dengan kegiatan dunia matanya.

Di setiap desa, kampung, dan lingkungan, harus ada para tokoh pemuda yang mau bergerak membuat kegiatan atau perkumpulan organisasi supaya bisa menarik kreativitas para remaja, tentunya seluruh kegiatan harus disesuaikan dengan. Perkembangan dunia milenial saat ini.

Sehingga mereka merasa cocok dengan wadah tersebut, dan tentunya tidak melanggar norma Agama dan adat istiadat di tengah masyarakat.








×
Berita Terbaru Update