Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?

foto : Bincang Syari'ah 

Kampoeng News. Com– Agama, sejatinya, tidak pernah tumbuh dari ruang hampa. Ia hadir melalui rentang sejarah yang panjang, melalui tangan para pendakwah, melalui arus peradaban, melalui pergeseran budaya, dan melalui kelahiran kita di tengah lingkungan tertentu. Karena itu, sangat sulit, bahkan mustahil, untuk mengklaim bahwa keberagamaan kita muncul secara murni tanpa jejak sejarah dan kondisi sosial.

Seandainya saya lahir di Betawi atau Banten pada abad ke-14, besar kemungkinan saya akan menjadi seorang Muslim. Jika Anda lahir di wilayah yang dikuasai kekristenan sejak ratusan tahun lalu, besar kemungkinan Anda akan menjadi Kristen. Sederhana saja: manusia adalah anak dari ruang dan waktu. Karena itu, keberagamaan kita pun tak bisa dilepaskan dari keduanya.

Jejak Agama di Nusantara

Nusantara telah lama menjadi rumah bagi berbagai agama besar dunia. Hindu-Buddha datang pada awal abad pertama Masehi. Islam berkembang pesat sejak abad ke-14, setidaknya menurut bukti arkeologis dan catatan sejarah. Kristen hadir melalui para misionaris sejak abad ke-16.

Apa artinya? Bahwa agama-agama yang kini kita anut sejatinya diterima dari mereka yang mendahului kita: pendatang, leluhur, guru, pemuka tradisi, dan jaringan sosial yang membentuk lingkungan kita.

Karena itu, keyakinan yang kita anggap paling benar pun—secara manusiawi—dibentuk oleh keluarga, pendidikan, bacaan, pergaulan, dan ruang sosial tempat kita bertumbuh. Kita mempelajari agama justru setelah kita beragama. Kita jarang diberi pilihan lebih dari satu.

Kesadaran yang Membuat Rendah Hati

Sadar akan akar sejarah dan budaya ini membuat kita seharusnya bersikap rendah hati. Kita tidak sedang berdiri di ruang steril. Kita berdiri di tengah aliran besar sejarah.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan bahwa keragaman adalah sunnatullah:

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya; “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al - Hujurat : 13)

Keragaman bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah bagian dari rencana Ilahi. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita membenci orang yang berbeda agama, apalagi hanya berbeda aliran dalam agama yang sama.

Ironisnya, energi umat beragama saat ini justru paling banyak habis bukan karena perbedaan agama, tetapi perbedaan kecil dalam internal masing-masing.

NU, Muhammadiyah, Persis. Katolik, Protestan, Ortodoks. Theravada, Mahayana, Tantra. Semua adalah hasil dialektika sejarah, wilayah, tradisi, dan guru-guru tertentu yang membentuk mereka.

Jika Kita Lahir di Tempat Lain…

Kesadaran sederhana ini sering kali hilang. Padahal, jika Anda lahir di Iran, besar kemungkinan Anda Syiah. Jika Anda lahir di Madura, kemungkinan Anda NU. Jika Anda lahir di Padang, Anda mungkin Muhammadiyah. Jika Anda lahir di Malaysia, menjadi Muslim berarti juga menjadi Melayu.

Dan jika Anda lahir di Amerika, Anda bahkan mungkin tidak tahu apa itu NU atau Muhammadiyah.

Lalu atas dasar apa kita memusuhi sesama manusia hanya karena cara mereka beragama berbeda? Dengan cara apa kita dapat membenarkan kebencian itu? Tidak ada.

Kita merujuk teks suci, sejarah, dan para ahli yang kita percaya. Demikian pula orang lain. Semua menggali inspirasi dari sumber-sumber yang diyakini benar untuk kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Bahkan mereka yang tidak berafiliasi dengan agama tertentu tetap memakai akal budi dan etika untuk menjalani hidup—dan mereka tetap bisa bahagia.

Masalah-masalah besar dunia, pandemi, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, kekerasan, korupsi, semuanya menimpa manusia tanpa memeriksa agama di KTP mereka. Kita menghadapi persoalan yang sama karena kita adalah bagian dari umat manusia yang sama.

Karena itu, beragamalah dengan lapang dada. Tidak perlu sesak napas setiap kali melihat orang lain berbeda. Tidak perlu sempit pikiran menyalahkan cara orang lain mengenal Tuhan. Ketika kita memusuhi orang lain karena mereka berbeda, kita sedang mengundang mereka untuk memusuhi kita dengan alasan yang sama.

Allah mengingatkan pentingnya keadilan bahkan kepada yang berbeda:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Artinya; Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Pada akhirnya, agama adalah cahaya bagi kehidupan. Tetapi cahaya itu datang kepada kita melalui jalan sejarah dan budaya yang panjang. Kita merawat cahaya itu dengan bijak, bukan dengan kebencian. Kita menghidangkannya dengan adab, bukan dengan permusuhan.

Dan kita menerima bahwa meski berbeda iman, kita tetap sesama manusia—yang saling membutuhkan, bekerja sama, dan hidup berdampingan.

Sumber : Bincangsyariah.com

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?
  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?
  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?
  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?
  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?
  •  Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain. Kenapa?